Dari Kerugian hingga Bangun Brand Sendiri, Kisah Kakak-Adik Tenggarong Merintis RoemahkeRumah
Thoriq dan Sindi memperkenalkan inovasi minuman baru berbahan dasar sari kacang hijau yang menjadi produk terbaru RoemahkeRumah. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Kerugian yang pernah dialami saat menjadi reseller justru menjadi titik balik bagi kakak beradik Sindi dan Thoriq untuk membangun usaha dengan brand sendiri.
Dari pengalaman
tersebut, keduanya kemudian merintis RoemahkeRumah sejak 2022, sebuah bisnis
kuliner rumahan di Tenggarong yang hingga kini terus dikembangkan dengan
mengandalkan pemasaran secara online.
Berawal dari rumah,
Sindi bersama sang adik mencoba membangun usaha secara perlahan dengan
menghadirkan berbagai pilihan makanan yang disesuaikan dengan selera konsumen.
Mereka tidak hanya
memilih produk modern sebagai andalan, tetapi juga mempertahankan jajanan
tradisional yang dinilai memiliki nilai tersendiri dan masih berpeluang untuk
diterima masyarakat apabila dikemas secara lebih menarik.
Putu Ayu menjadi
salah satu produk yang pertama kali mereka kembangkan.
Dari menu tersebut,
RoemahkeRumah kemudian memperluas pilihan produknya dengan menghadirkan Putu
Ayu Gula Merah, Putu Ayu Pandan, Putu Ayu Pandan Lapis Gula Merah, Dadar
Gulung, Bolu Peca', Bitterballen hingga Pisang Gapit, sehingga pelanggan dapat
memilih makanan sesuai kebutuhan, baik untuk konsumsi pribadi maupun berbagai
keperluan lainnya.
Menurut Sindi,
mempertahankan makanan tradisional bukan hanya berkaitan dengan pilihan produk
yang dijual, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mereka agar jajanan yang
mulai jarang mendapat perhatian tetap memiliki tempat di tengah perkembangan
kuliner yang semakin beragam.
Menurutnya, makanan
tradisional sebenarnya memiliki peluang besar untuk kembali diminati apabila
mampu dikemas dengan cara yang lebih menarik tanpa menghilangkan karakter
aslinya.
"Kalau
dilihat-lihat itu kan bilang ke orang, 'Kue tradisional ini kalau menurut saya
terlalu disampingkan.' Jadi gimana sih caranya supaya orang itu pengen beli,
punya minat buat nyoba? Ini tradisional, ini bagus," ujarnya saat ditemui
pada Jumat (25/9/2026).
Seiring perkembangan
usaha, RoemahkeRumah juga mulai menghadirkan sejumlah menu modern untuk
menjangkau konsumen dengan selera yang lebih beragam.
Beberapa di antaranya
seperti berbagai varian Lava Cake, Bolu Pisang Cinnamon hingga kue kering yang
diproduksi berdasarkan pesanan pelanggan.
Untuk menu
tradisional, Putu Ayu Pandan Lapis Gula Merah misalnya, dibanderol Rp125 ribu
untuk ukuran medium dan Rp170 ribu untuk ukuran large, sedangkan Putu Ayu Gula
Merah dijual Rp115 ribu untuk medium dan Rp150 ribu untuk large.
Sementara Putu Ayu
Pandan dibanderol Rp105 ribu untuk medium dan Rp135 ribu untuk large.
RoemahkeRumah juga
menyediakan Putu Ayu dalam ukuran mini dengan harga Rp24 ribu untuk empat buah
dan Rp45 ribu untuk sembilan buah, dengan minimal pemesanan sebanyak 20 buah
per varian.
Pilihan tersebut
menjadi salah satu alternatif bagi pelanggan yang ingin menyajikan jajanan
tradisional dalam jumlah lebih banyak untuk berbagai kegiatan.
Pada menu modern, Red
Velvet Lava Cake tersedia mulai Rp28 ribu untuk ukuran small, Rp125 ribu medium
dan Rp185 ribu large, sedangkan varian Taro dan Matcha memiliki kisaran harga
yang sama.
Ada pula Lava Cake
Tiramisu, Orange-Choco dan Mint-Choco yang dibanderol mulai Rp32 ribu hingga
Rp195 ribu sesuai ukuran, sementara varian Strawberry-Choco tersedia mulai Rp30
ribu.
Bolu Pisang Cinnamon
dijual mulai Rp45 ribu untuk ukuran small, Rp85 ribu medium dan Rp145 ribu
large.
Sementara itu, Bolu
Peca' dibanderol Rp28 ribu per box berisi enam buah atau Rp5 ribu untuk satuan,
sedangkan Dadar Gulung varian Unti Kelapa Gula Merah dijual Rp60 ribu per 10
buah dan varian Cream Cheese Rp55 ribu per 10 buah.
Untuk Bitterballen,
pelanggan dapat memperolehnya dengan harga Rp65 ribu per 10 buah, sedangkan
Pisang Gapit ditawarkan Rp18 ribu per bowl.
Namun, menu Pisang
Gapit tidak selalu tersedia karena produksinya menyesuaikan dengan ketersediaan
bahan baku pisang.
Sebagian besar menu
RoemahkeRumah masih menggunakan sistem pre-order dengan pemesanan maksimal H-2,
terutama untuk pesanan dalam jumlah banyak.
Sistem tersebut
dipilih agar produksi dapat disesuaikan dengan jumlah pesanan yang masuk,
sementara operasional pemesanan berlangsung Senin hingga Jumat.
Di balik semakin
beragamnya produk yang ditawarkan, perjalanan Sindi dan Thoriq dalam membangun
RoemahkeRumah tidak selalu berjalan mulus.
Pada masa awal usaha,
jumlah pelanggan masih terbatas, sementara perubahan harga bahan baku menjadi
salah satu persoalan yang harus mereka hadapi karena turut memengaruhi biaya
produksi dan pada akhirnya berdampak terhadap harga jual produk.
"Dari awal-awal
kan kita, barangkali itu memang pelanggannya sedikit. Terus juga yang paling
berpengaruh sih karena ada fluktuasi harga bahan. Itu yang bikin berpengaruh ke
harga jual," jelasnya.
Meski menghadapi
kondisi tersebut, Sindi memilih untuk tetap mempertahankan usaha yang telah
mereka bangun.
Salah satu alasan
yang membuatnya bertahan adalah keinginan untuk terus memperkenalkan makanan
tradisional kepada masyarakat, terlebih ia melihat jajanan tersebut memiliki
nilai yang tidak hanya berkaitan dengan produk makanan, tetapi juga bagian dari
kekayaan kuliner yang layak mendapatkan perhatian.
"Karena memang
makanan tradisional itu memang berhak untuk dapat penghargaan," kata dia.
Bagi Sindi,
perjalanan RoemahkeRumah juga menjadi ruang untuk terus belajar dan melakukan
inovasi.
Ia menyadari bahwa
membangun sebuah usaha tidak selalu memberikan hasil dalam waktu singkat,
karena ada masa ketika penjualan mengalami penurunan dan ada pula saat
pelanggan mulai bertambah, sehingga konsistensi menjadi salah satu hal yang
harus dijaga selama menjalankan usaha.
Pengalaman tersebut
kemudian membuatnya memiliki pesan bagi anak muda yang ingin mencoba dunia
usaha agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Menurutnya, proses
membangun usaha memang membutuhkan kesabaran karena hasil yang diharapkan tidak
selalu langsung terlihat sejak awal.
"Jangan mudah
menyerah. Memang susah, memang berat. Cuma kalau kita bersungguh-sungguh itu
pasti dapat," ujarnya.
Sementara itu, sang
adik, Thoriq mengatakan Perjalanan RoemahkeRumah tidak terlepas dari
pengalamannya sebelum memiliki brand sendiri.
Keduanya sempat
menjalankan usaha sebagai reseller dengan mengikuti produk milik pihak lain,
namun dari pengalaman tersebut mereka justru mengalami kerugian cukup besar
hingga harus menggunakan uang pribadi untuk menutup kekurangan yang terjadi.
Kerugian tersebut
kemudian menjadi pelajaran penting sekaligus alasan bagi keduanya untuk
mengambil keputusan membangun usaha dengan nama sendiri.
Dengan memiliki brand
sendiri, mereka dapat lebih leluasa menentukan produk, mengatur pemasaran
hingga mengembangkan konsep usaha sesuai dengan arah yang mereka inginkan.
"Keputusan itu
diambil setelah yang reseller itu mendapatkan kerugian yang sangat besar sampai
harus nombok. Jadi kita harus survive sendiri, pakai brand kita sendiri,"
tuturnya.
Setelah menggunakan
brand sendiri, pemasaran RoemahkeRumah dilakukan secara online.
Pada awalnya, mereka
memanfaatkan influencer untuk membantu memperkenalkan produk kepada masyarakat,
kemudian pemasaran berkembang melalui media sosial dan jaringan pertemanan yang
secara perlahan membantu memperluas jangkauan calon pelanggan.
Sistem pre-order juga
menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha karena produksi dapat
disesuaikan dengan jumlah pesanan yang masuk.
Bagi Thoriq, cara
tersebut cukup membantu dalam mengelola modal yang masih terbatas sekaligus
mengurangi risiko produk yang sudah dibuat tetapi tidak terserap oleh pasar.
Namun, menurut
Thoriq, menjalankan bisnis kuliner juga membuat mereka harus terus
memperhatikan perubahan selera konsumen.
Ia melihat konsumen
di daerah cenderung memiliki ketertarikan terhadap sesuatu yang sedang baru
atau ramai diperbincangkan, sehingga produk yang baru muncul biasanya lebih
mudah menarik perhatian pada awal peluncurannya.
"Kalau
orang-orang di sini tuh kayak apa yang baru happening, kayak misalnya apa nih
yang baru, orang biasanya tertarik, akan beli pertama kali," jelasnya.
Kondisi tersebut
membuat RoemahkeRumah tidak hanya berusaha mengikuti perkembangan tren, tetapi
juga mulai memikirkan bagaimana membangun identitas usaha agar produk mereka
tidak berhenti hanya sebagai sesuatu yang ikut ramai ketika sebuah tren sedang
berkembang.
Menurut Thoriq,
sebuah usaha perlu mempunyai karakter yang membuat konsumen memiliki alasan
untuk kembali membeli.
Dari pengalaman
menjalankan usaha tersebut, ia melihat bahwa pelaku usaha perlu mengetahui apa
yang menjadi keunikan produknya sendiri.
Hal tersebut dinilai
penting agar usaha memiliki ciri yang dapat dikenali dan tidak sepenuhnya
bergantung pada tren yang sewaktu-waktu dapat berubah.
"Kalau saran
dari saya, temukan sendiri identitasnya. Apa keunikan dari usaha itu, apa
gitu," ujarnya.
Prinsip tersebut
kemudian mereka terapkan melalui konsep RoemahkeRumah yang memadukan makanan
tradisional dan modern.
Jajanan seperti Putu
Ayu tetap dipertahankan sebagai salah satu produk utama, sementara berbagai
menu modern terus dikembangkan untuk mengikuti kebutuhan konsumen yang lebih
luas.
Belakangan, Thoriq
juga mulai mengembangkan produk minuman berbahan dasar sari kacang hijau.
Salah satu
pengembangannya terinspirasi dari tren matcha yang kemudian mereka coba olah
menggunakan konsep sendiri, sehingga produk yang dihasilkan tidak sekadar
mengikuti tren tetapi tetap memiliki karakter yang ingin mereka bangun.
Usaha minuman
tersebut masih tergolong baru dan baru berjalan sekitar satu bulan.
Karena itu, Sindi dan
Thoriq masih melihat bagaimana respons konsumen sebelum menentukan apakah
produk tersebut akan dikembangkan lebih jauh atau kembali menghadirkan varian
lainnya.
Meski hingga kini
masih dijalankan dari rumah, keduanya sudah memiliki keinginan untuk memperluas
jangkauan RoemahkeRumah ke luar Tenggarong.
Samarinda menjadi
salah satu daerah yang ingin mereka jangkau, namun rencana tersebut membutuhkan
persiapan dan modal yang lebih besar sehingga untuk saat ini mereka memilih
memperkuat usaha secara bertahap dari tempat mereka memulai.
Bagi Thoriq,
pengalaman jatuh bangun sejak menjadi reseller hingga membangun brand sendiri
memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana sebuah usaha harus dijalankan.
Ia menilai seseorang
tidak harus menunggu semua kondisi menjadi sempurna untuk memulai, karena
banyak hal justru dapat dipelajari setelah usaha tersebut benar-benar
dijalankan.
Ia berharap semakin
banyak anak muda yang berani mencoba dunia usaha dan tidak menjadikan kegagalan
sebagai alasan untuk berhenti.
Menurutnya,
pengalaman menghadapi kerugian dan berbagai persoalan dalam usaha justru dapat
menjadi bagian dari proses untuk mengetahui apa yang harus diperbaiki dan
bagaimana sebuah usaha dapat terus berkembang.
"Kalau pesan
untuk anak muda, kalau mau buka usaha, ya buka aja. Langsung aja buka banyak
hal dan hikmah yang dapat dipelajari dari satu keputusan itu," pungkasnya.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba produk RoemahkeRumah, berbagai menu tersebut dapat dipesan melalui laman Instagram RoemahkeRumah.
Pemesanan dilakukan
dengan sistem pre-order sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga pelanggan dapat
menyesuaikan pesanan dengan kebutuhan dan waktu yang diinginkan. (Kriz)